skip to main |
skip to sidebar
God grant me the serenity
To accept the things I cannot change;
Courage to change the things I can;
And wisdom to know the difference;
Living one day at a time;
Enjoying one moment at a time;
Accepting hardship as the pathway to peace;
Taking, as He did;
This sinful world as it is;
Not as I would have it.
Trusting that He will make all things right;
If I surrender to His will;
That I maybe reasonably happy in this life;
And suppremely happy with Him;
Forever in the next
Amen
By Reinhold Niebuhr
Selama beberapa bulan terakhir kami menjalani usaha secara "Gerilya",
kenapa disebut "Gerilya", karna cara yang kami gunakan adalah dengan memilih beberapa
teman yang kami minta untuk menjualkan barang dagangan kami, tanpa mereka barang-
barang dagangan kami hanya akan menumpuk dirumah dari hari Senin sampai Jum'at, baru
Sabtu dan Minggu kami bisa menjualnya. Maklumlah, saat ini kami masih jadi "manusia amphibi" menurut bahasanya Pak Hadi, hehehe mau pindah kuadran koq kayaknya sulit sekali yaaa.
Impian kami untuk segera berpindah dari kuadran kiri ke kuadran kanan rasanya sudah sangat mendesak, mengingat masih banyak impian-impian kami yang masih jauh dari terwujud.
Dengan cara "Gerilya" inilah kami harapkan dalam waktu beberapa bulan kedepan, kami bisa meluncurkan status kami yang baru yaitu "Penghuni Kuadran Kanan"
Walaupun begitu, masih banyak kendala yang kami hadapi, misalnya keterbatasan dana untuk modal, yang akhirnya membuat partner "Gerilya" kami berteriak, karna barang-barang dagangan yang kami beri untuk mereka masih sangat terbatas jumlahnya.
Kami tau, apa yang kami jalankan saat ini harus kami lakukan dengan penuh kesabaran dan Doa, karna suatu hari, kami akan merasakan hasilnya.
Dear Lord,
I surrender all
All to Thee my Blessed Savior
I surrender all
Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang
jenderal besar yang selalu
menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia
dijuluki "Sang Jenderal
Penakluk" oleh rakyat.
Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan
pasukannya terdesak oleh
pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak.
Mereka melarikan diri, namun
terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu
para prajurit Sang
Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada
musuh saja. Sang
Jenderal segera mengambil inisiatif, "Wahai seluruh
pasukan, menang-kalah
sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan
menanyakan kepada para dewa,
apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang."
Saya akan melakukan tos
dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar
yang muncul, kita akan
menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan
kalah! Biarlah dewa-dewa
yang menentukan!" seru Sang Jenderal sambil
melemparkan kepingnya untuk
tos. Ternyata sisi gambar yang muncul! Keadaan itu
disambut histeris oleh
pasukan Sang Jenderal, "Hahaha. dewa-dewa di pihak
kita! Kita sudah pasti
menang!!!" Dengan semangat membara, bagaikan
kesetanan mereka berbalik
menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka
benar-benar berhasil
menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat
banyaknya.
Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit
berkata kepada Sang Jenderal,
"Kemenangan kita telah ditentukan dari langit,
dewa-dewa begitu baik
terhadap kita." Sang Jenderal menukas, "Apa iya
sih?" sembari melemparkan
keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si
prajurit memeriksa kedua
sisi keping itu, dan dia hanya bisa melongo ketika
mendapati bahwa ternyata
kedua sisinya adalah gambar.
Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang
tidak bisa kita ubah;
banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak
kita. Namun demikian,
pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa
mengubah pikiran atau sisi
internal kita sendiri: untuk menjadi bahagia atau
menjadi tidak berbahagia.
Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan
nasib baik atau nasib
buruk, jadi sebenarnya nasib kita tidaklah
ditentukan oleh siapa-siapa,
melainkan oleh diri kita sendiri. Ujung-ujungnya,
kebahagiaan adalah sebuah
pilihan proaktif.
"The most proactive thing we can do is to 'be
happy'," begitu kata Stephen
R. Covey dalam buku 7 Habits-nya.
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Masih ingat waktu kami menggadaikan cincin pernikahan kami, (baca postingan "Yang tergadaikan") pada saat itu cincin pernikahan kami dihargai oleh pegadaian sebesar Rp. 1.200.000,- uang tersebut kami gunakan untuk membeli barang-barang dagangan dan menjualnya kembali seperti 3 buah Selimut dari Pak Hadi, pakaian-2 remaja, daster, kaus dll .
Dan mulailah kami berdagang dengan dagangan kami sendiri, tetapi masih ada juga teman yang menitipkan dagangan untuk kami jual.
Pada saat penghitungan keuntungan, eh, ternyata yang tadinya cuma Rp. 1.200.000,-, sekarang
sudah berlipat jadi Rp. 2.400.000,- itu karna kami dibantu dengan menjual Selimut Jepang yang
memberikan keuntungan 100% dari harga modal kami, dan masih ditambah dengan keuntungan
dari dagangan teman yang kami jual tanpa modal.
Kami berusaha untuk tetap mendisiplinkan diri dengan tidak mencampur uang hasil dagangan
dengan keuangan rumah tangga, karna nantinya uang hasil dagangan inilah yang akan kami
gunakan kembali untuk Tambahan Modal selanjutnya.